Dua Kaki yang Diharamkan dari Neraka

9 Februari 2009

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ (صحيح البخاري

Sabda Rasulullah SAW :

“Barang siapa yang berdebu kedua kakinya di jalan Allah, maka Allah haramkan ia dari neraka”

(Shahih Bukhari)

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Maha Raja yang Tunggal dan Abadi, Allah Jalla Wa Alaa, (Jalla wa alaa = Maha Berwibawa dan Maha Luhur). Sang Penguasa dari zaman ke zaman sebelum terciptanya waktu dan zaman, sebelum berputarnya bulan, matahari dan bumi, sebelum tercipta siang dan malam dan sebelum tercipta seluruh kehidupan, Sang Pemiliki Kehidupan menghamparkan bermilyar kehidupan yang selalu berganti dengan kematian mengikuti waktu dan zaman. Dialah (Allah) yang terlepas dari keterikatan oleh waktu dan zaman, justru Dialah (Allah) yang mengikat dan mengatur waktu dan zaman. Jalla Wa Alaa Swt yang Maha Luhur terlepas dari keterikatan pada kebutuhan pada setiap makhluk-Nya. Justru setiap makhluk yang hidup disadari atau tidak disadari terikat kepada Allah Jalla Wa Alaa. Tiada satu kehidupan yang lepas dari kekuasaan ilahi, tiada satu kehidupan yang tidak dimiliki oleh Allah dan tiada pula satu jengkal bagian di langit atau di bumi yang bukan milik Allah Jalla Wa Alaa.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Maha Suci Allah Yang Maha Menguatkan jiwa hamba – hambaNya dengan datangnya guncangan fitnah dan kerusakan aqidah. Allah memilih hamba – hambaNya dan menguatkan mereka entah dengan pemikiran sendiri atau dengan nasihat atau dengan melihat atau dengan mempelajari. Allah menguatkan aqidah mereka hingga tidak bisa terguncang dengan fitnah sebesar apapun. Telah mengalir fitnah dari zaman ke zaman kepada para Nabi dan kepada para shalihin dan para Nabi dan shalihin tetap mulia dan diabadikan oleh Allah dan para pembawa fitnah tenggelam di dalam kehinaan yang abadi jika mereka tidak bertaubat. Maha Suci Allah Yang Maha Menguatkan jiwa kita untuk tidak menyembah selain Allah, Maha Suci Allah Yang Membuka kesempatan bagi para pendosa untuk mendekat kepada Allah, Maha Suci Allah Yang Menghidupkan para ulama dan shalihin menuntun kepada keluhuran. Jazakumullah Khair, Khairul Jaza’ doa dan munajat untuk para da’i Allah dan para shalihin sepanjang waktu dan zaman.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian Allah Swt menuntun umat muslimin – muslimat untuk selalu berada di jalan keluhuran dan menjadikan para ulama sebagai “Wurraatsunnabi” para pewaris Nabi Muhammad Saw, sebagaimana hadits riwayat Shahih Bukhari “ulama waratsatul anbiya” para ulama adalah pewaris para Nabi. Maha Suci Allah Swt yang dengan Memuji-Nya terluhurkanlah jiwa. Yang dengan Memuji-Nya, semakin besar seorang hamba ingin memuji dan memuji Allah, semakin Allah buat keadaannya terpuji. Semakin ia memuji Allah semakin Dia (swt) membuat hari – hari orang itu terpuji. Namun ketika seorang hamba lupa dari hal – hal yang indah di sisi Allah maka dirisaukan kehidupannya jauh dari hal – hal yang terpuji. Demikian di dunia dan demikian di akhirat.

Memuji Allah adalah hal yang lazim dan hal yang pasti ada bagi mereka yang mendalami Keagungan Ilahi. Semakin dalam pemahaman seseorang tentang Keagungan Allah semakin banyak ia akan memuji Allah karena semua sifat terpuji dan hal – hal yang terpuji berpadu kepada Allah dan Allah juga yang menciptakan semua hal yang terpuji. Dan Allah menjadikan hal – hal yang hina ada di permukaan bumi untuk membedakan mana yang hina dan mana yang terpuji.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu Allah Swt mengenalkan kalimat “Hamdalah ba’da Basmalah”. (mengucap Alhamdulillah setelah mengucap Bismillah) “Bismillahirrahmanirrahim” dulu. “Dengan Nama Allah” Yang Maha Tunggal dan Abadi mengawali segala kehidupan di langit dan bumi. “Arrahman Arrahim” “Maha Melimpahkan seluruh Kasih Sayang dan Rahmat pada segenap hamba-Nya di dunia dan di akhirat”. Setelah kita ingat itu seluruh kenikmatan, kemewahan, keinginan, kemuliaan, kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang telah dilimpahkan oleh Allah kepada sedemikian triliyun hamba-Nya di permukaan bumi dan masih akan berlanjut dengan kekal dan abadi di yaumil qiyamah bagi mukminin – mukminat. Setelah itu sampai ke dalam benak pemikiran kita. Barulah Allah teruskan dengan “Alhamdulillahirabbil ‘alamin” QS. Al Fatihah : 2 Segala Puji Bagi Allah, Rabb semesta alam.

Jawaban bagi kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” adalah “Alhamdulillahirabbil ‘alamin”. Jawaban bagi kesadaran seorang hamba atas kenikmatan yang di tumpah – ruahkan oleh Allah di dunia kepada yang beriman dan yang tidak beriman dan kepada yang beriman di akhirat dengan kekekalan, kebahagiaan yang kekal. Jawaban bagi mereka yang merenungkan itu pastilah memuji Allah Rabbul Alamin. “Alhamdulillahirabbil ‘alamin”, sering – seringlah minta kepada Allah Swt agar jiwa kita selalu asyik memuji Allah Swt dan dengan itu kehidupan kita semakin terpuji.

Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa ketika seorang hamba setelah ruku’ melakukan i’tidal ia mengucap “Sami’Allahu liman hamidah” Allah Maha Mendengar siapapun yang memuji-Nya. Memuji dengan hatinya atau dengan lisannya atau dengan keduanya atau dengan beribadah kepada-Nya yang juga bisa merupakan bentuk dari pujian kepada Allah. Atau dengan segala ketaatan yang ia jadikan sebagai bentuk pujiannya kepada Allah. Atau penyesalan dari dosa – dosanya ia jadikan sebagai bentuk terpujinya Allah pada dirinya. Karena aku ingin memuji-Mu dan mengagungkan-Mu Rabbiy, maka aku meninggalkan dosa – dosa. “SamiAllahu liman hamidah” Allah Maha Mendengar orang – orang yang memuji-Nya.

Lalu ucapan setelahnya “Rabbana lakal hamdu” Wahai Tuhan kami untuk-Mu segala pujian. Pujian – pujian yang agung untuk-Mu wahai Rabb.
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari Rasul saw bersabda “man waafaqa qaulahu wa qaulalmalaikat, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih” kalau seandainya ucapan “Rabbana lakal hamdu” itu bersamaan dengan ucapan para malaikat yang juga mengucapkan “Rabbana wa lakal hamdu” maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu.
Kita bertanya, mana kita tahu? bersamaan atau tidak dengan para malaikat. Jadi malaikat itu diijinkan oleh Allah Swt dengan masing – masing tugas. Ada yang mengikuti dzikir, ada yang meng-aminkan doa, ada yang mengikuti ucapan – ucapan pujian kepada Allah. Ketika seseorang mengucapkan “SamiAllahu liman hamidah” dengan hatinya pun ia mengucapkan, Allah Maha Mendengar siapapun yang memuji-Nya maka malaikat memuji Allah saat itu.

Lalu ia mengucap “Rabbana lakal hamdu”, jika ia mengucapkan dengan hati dan sanubarinya itu dan bersamaan dengan ucapan para malaikat yang juga memuji-Nya “faghufira lahu maa taqaddama min dzanbih” QS. Al Fath : 2 diampuni dosanya yang telah lalu. Yang kita tanyakan berapa ribu kali ucapan “Rabbana lakal hamdu” yang sudah kita ucapkan tapi hati kita tidak mengucapkan. Padahal itu pengampunan Allah menunggu setiap kali I’tidal sebelum kita sujud, pengampunan Allah sudah lebih dahulu datang. Setelah Alfatihah, ruku’ lalu i’tidal sebelum sujud, kita sudah diampuni dosanya oleh Allah Swt, kalau kita menghadirkan makna. Demikian agungnya shalat.

Hadirin – hadirat, sebelum dahi sampai ke bumi merendahkan diri serendah – rendahnya kepada Allah, sudah tidak punya dosa lagi kita. Demikian indahnya aturan – aturan Ilahiyyah, demikian indahnya tuntunan Nabi Muhammad Saw. Dalam segala hal Allah menyediakan kemuliaan.

Ini hadits yang kita baca tadi, riwayat Shahih Bukhari “man ighbarrat qadamaahu fii sabiilillahi, harramahullahu ‘alannaar” barangsiapa yang kakinya berdebu (sampai berdebu) karena berjalan pada hal – hal yang diridhai Allah (di jalan Allah) maka Allah haramkan kakinya itu masuk neraka. Kalau kakinya tidak masuk neraka berarti tubuhnya juga tidak masuk neraka. Demikian hadirin – hadirat,
Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa hadits ini bukan hanya untuk yang berperang di jalan Allah saja tapi juga untuk yang melangkah menuju shalat jum’at. Karena ada riwayat Shahih Bukhari menyebutnya saat sahabat berjalan menuju shalat jum’at.
Dan juga dalam segala hal – hal yang diridhai Allah menuju hal – hal yang bersifat ibadah kepada Allah sampai berdebu kakinya maka kedua kakinya Allah haramkan masuk neraka. Lalu kita bertanya, apakah harus berjalan kaki menuju masjid? Tentu yang dimaksud bukanlah berjalan langkah – langkahnya tapi adalah usahanya untuk mencapai tempat yang diridhai Allah. Sampainya kita ke tempat ini semoga kita semua diharamkan oleh Allah dari api neraka. Amin

Demikian dahsyatnya Rahmat Ilahi, cuma sayangnya setelah sebagian dari mereka kakinya diharamkan oleh Allah dari api neraka, mereka kembali melangkah pada hal – hal yang dimurkai oleh Allah. Demikian keadaan manusia dalam siang dan malamnya. Beruntunglah mereka yang selalu menuju tempat yang mulia dan mengikuti sunnah Sang Nabi saw. Ia lebih mudah ke tempat yang mulia, majelis taklim, majelis dzikir, masjid dan lainnya. Hal – hal seperti ini menuju di jalan Allah dan tentunya bukan hanya itu tetapi bekerja, mencari nafkah, sekolah untuk mencari keridhaan orangtua, untuk mencari rezki, untuk mencari rezki yang halal atau berkhidmah kepada Islam, berkhidmah pada dakwah.
(misalnya kita berkata) Saya kuliah, kuliah itu saya tidak pernah lihat di hadits, tapi kuliah niatnya ibadah misalnya dalam hatinya begitu. Jadi tentunya kalau niat kuliahnya adalah untuk menjadi ahli ekonomi, biologi atau ahli fisika yang Islami, yang bisa mengalahkan mereka – mereka yang menghancurkan Islam maka setiap langkahnya “fisabilillah”.

Demikian pula bekerja, demikian pula berumah tangga, demikian pula dengan usaha. Jika niatnya baik “fa innamal kullu a’mal binnniyat innamal a’mal binniyat wa innama likullimri;in maa nawaa”. (yaitu sabda Nabi saw : sungguh semua amal itu tergantung niatnya, dan balasan Allah itu tergantung pada niatnya)
Getaran hati merubah satu hal yang hina menjadi mulia atau sebaliknya. Jalan menuju majelis dzikir, apa niatnya? Niatnya ibadah kepada Allah, maka ia mendapatkan kemuliaan ini. Jalan menuju majelis dzikir untuk memfitnah orang lain maka tentunya kembali kepada niatnya masing – masing. Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah.

Dalam hal ini banyak juga ditanyakan kepada saya membahas masalah pakaian di masjid. Tentang hal yang disebut “isbal” ini sedang ramai dibicarakan. Mereka – mereka yang bekerja di internet atau yang di sekolah mempertanyakan masalah ini. Isbal adalah menaikkan celana atau sarung harus diatas mata kaki. Karena yang menurunkannya di bawah mata kaki itu Allah murka padanya. Hadits riwayat Imam Ahmad dan lainnya. Hadirin, jadi setiap kali kerja, setiap kali sholat, setiap kali apapun pakaiannya harus diatas mata kaki. Ini pendapat keliru, karena bukan itu yang dimaksud oleh Sang Nabi. Allah tidak mau melihat (murka) wajah orang – orang yang memanjangkan celananya atau sarungnya dibawah mata kaki. Itu haditsnya.

Kalau sudah tidak dilihat oleh Allah, bagaimana mau masuk surga? dilihat saja tidak, berarti lebih daripada murka, Allah tidak mau melihat mereka. Siapa mereka? Hal ini bukan yang dimaksud seperti yang disampaikan sekarang ini karena ada lagi hadits riwayat Shahih Bukhari bahwa ketika Rasul saw mengucap ini, berkata Abu Bakar Ashshiddiq radiyallhu ‘anhu “ya Rasulullah sarungku melebihi mata kakiku jadi aku diantara mereka?” maka Rasul saw berkata “kau bukan yang bersama mereka (orang – orang yang tidak dilihat Allah)”. Maka Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan hadits ini menjadi dalil bahwa memanjangkan celana atau sarung dibawah mata kaki tidak diharamkan oleh Allah dan tidak pula makruh. Karena yang dimaksud adalah untuk kesombongan.

Jadi hadirin ini masalah hatinya. Di masa Nabi saw orang kaya dan orang miskin itu bisa dibedakan dengan memanjangkan celana atau sarungnya atau tidak? Kalau orang miskin, fuqara, buruh, orang – orang menengah ke bawah pasti sarung atau celananya diatas mata kaki. Kenapa? karena selalu berjalan kaki. Akan Kotor kalau seandainya panjang kainnya di bawah lutut. Sebaliknya orang kaya memanjangkan celananya atau sarungnya dibawah mata kaki sebagai tanda bahwa ia hampir tidak pernah berjalan ditanah, selalu diatas permadani, selalu diatas kuda oleh sebab itu dipanjangkan celananya atau sarungnya sebagai tanda nih..aku orang kaya, kira – kira begitu. Ini pemahaman dari perintah Nabi Saw.

Jadi yang diharamkan adalah memunculkan hal – hal yang menyombongkan kekayaannya atau menyombongkan hartanya atau menyombongkan dirinya bahwa ia bukan fuqara tapi ia orang kaya, ini yang diharamkan. Jadi demikian dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari. Buktinya Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq memanjangkan pakaiannya, celananya atau sarungnya dibawah mata kaki dan Rasul berkata “kau bukan dari golongan mereka yang tidak dilihat oleh Allah atau golongan yang dimurkai Allah”. Jadi jelas sudah bahwa yang dimaksud adalah hatinya. Kalau sarungnya dinaikkan sampai tengah – tengah dibawah lutut juga kalau hatinya sombong, tetap saja Allah murka padanya. Demikian hadirin masalah isbal. Ini sering ditanyakan di internet, di email, sms, surat, selalu ditanya. Saya katakan nanti saya jelaskan di majelis, Insya Allah.
Hadirin, demikian penjelaskan masalah isbal. Semoga Allah Swt menuntun kita dengan keadaan makmurnya para ulama dan shalihin. Karena kesalahpahaman seperti ini muncul dari semakin kurangnya ulama, semikin sedikitnya orang yang mengerti akhirnya orang yang tidak mengerti berfatwa. Demikian riwayat Shahih Bukhari, sebagaimana sabda Rasul saw “Allah mengangkat ilmu itu bukan mencabutnya dari hati seseorang tapi dengan mewafatkan para ulama, kalau sudah tidak tersisa lagi ulama atau sedikit (misalnya) di suatu wilayah maka orang – orang mengambil orang bodoh untuk dijadikan pemberi fatwa dan dianggap ulama adalah orang yang tidak berilmu, ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu maka ia sesat dan menyesatkan”. Karena ilmunya cuma nukil di internet, berfatwa tanpa ilmu maka ia sesat dan menyesatkan. Hadits ini dimaksudkan bagi kita untuk membangkitkan kembali generasi ulama, menghidupkan lagi generasi ulama.

Oleh sebab itu, Alhamdulillah berkat doanya para habaib kita disini ada Habib Sofyan Basyaiban, Habib Musthofa AlAthas, para habaib kita semoga pemuda semakin makmur mencintai sunnah Nabi Muhammad Saw. Semoga perkumpulan pemuda, semoga diantara ribuan ini menjadi pengusaha yang sukses, pemuda yang shalih, dan menjadikan orang – orang yang naik di pemerintahan semoga akan membawa kemakmuran, keluhuran, keadilan, semoga semua membawa manfaat bagi umat Nabi Muhammad Saw masing – masing dengan jalan yang ditunjukkan oleh Allah menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Dan para shalihin mempunyai manzilah yang agung di sisi Allah. Beruntunglah mereka yang mencintai para shalihin dan rugilah mereka yang menjauh dari para shalihin atau bahkan memusuhi para shalihin. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari didalam hadits qudsiy Allah Swt berfirman “barangsiapa yang memusuhi wali – wali Ku, Aku mengumumkan perang kepadanya, dan tiadalah seorang hamba-Ku mendekat kepada Ku dari hal – hal yang sudah kuwajibkan, dan tiadalah hamba – hambaKu berhenti dengan mengamalkan amal yang wajib saja tapi ia terus mendekat kepada-Ku pada hal – hal yang sunnah sampai Aku mencintainya, jika aku mencintainya maka Aku menjadi penglihatannya (yg ia gunakan untuk mendengar), Aku menjadi pendengarannya (yg ia gunakan untuk melihat), Aku menjadi tangannya (yg ia gunakan untuk berlindung) dan kakinya (yg ia gunakan untuk berjalan), jika ia minta pada-Ku, Ku-beri permintaannya, jika ia minta perlindungan pada-Ku, Aku akan melindunginya”. Apa maksudnya menjadi tangan dan kaki? Maksudnya panca indera mereka dijaga oleh Allah dari hal – hal yang dimurkai Nya. Demikian dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari ketika seseorang berusaha mengamalkan hal – hal yang fardhu dan sunnah sampai ia dicintai Allah, Allah jaga ia dari hal yang makruh apalagi yang haram.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu dijelaskan didalam Shahih Bukhari bahwa Sayyidina Umar bin Khattab itu ditakuti oleh syaitan. Syaitan lari dari Sayyidina Umar, tidak mau berpapasan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ra. Dan Imam Nawawi menjelaskan didalam Syarh Nawawi bisyarah Shahih Muslim bahwa ini bukan hanya untuk Sayyidina Umar tapi banyak para sahabat dan shalihin yang terjaga dari gangguan dan bahkan dijauhi oleh syaitan.

Hadirin – hadirat, berlandaskan firman Allah “sungguh hamba – hambaKu, kau (wahai syaitan) tidak akan mampu untuk menundukkan mereka”. (QS Al Hijr 42)Tidak bisa dikalahkan hamba – hamba yang shalih oleh syaitan, Allah beri kekuatan hingga syaitan tidak mampu berdekatan dengannya, jangankan menggoda.

Hadirin – hadirat, demikian Allah Swt memuliakan mereka sehingga Rasul saw menjelaskan dan mengajarkan kepada kita untuk bersalam kepada hamba yang shalih setiap kali shalat, setiap kali tahiyat membaca “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahisshalihin”. Riwayat Shahih Bukhari Rasul bersabda “barangsiapa yang mengucapkan kalimat itu didalam shalatnya maka Allah sampaikan salamnya itu kepada seluruh hamba Allah yang shalih di langit dan bumi”. Allah sampaikan salam dari umat ini kepada semua hamba – hamba yang shalih di langit dan bumi baik yang hidup maupun yang wafat. Salamnya sampai setiap kali kita shalat dalam tahiyat mengucap “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahisshalihin”. Salamnya sampai kepada semua hamba yang shalih.

Ketahuannya di akhir zaman bahwa orang – orang yang shalih, jangan kita merasa tidak mengenal dengan mereka. “Saya tidak kenal dengan hamba yang shalih” di hari kiamat bagaimana? kau beri salam kepada semua orang shalih. Di yaumal qiyamah kita dikenal oleh orang – orang shalih karena selalu bersalam kepadanya. Makanya kalau mengucapkan salam itu hadirkan hati kita “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahisshalihin”. Itu menjalin silaturahmi dengan seluruh hamba – hamba yang shalih. Demikian tingginya derajat hamba yang shalih di mata Allah. Sampai dalam shalat pun kita mengucapkan salam kepada mereka “disampaikan kepada seluruh hamba – hamba yang shalih di langit dan bumi”. Demikian lebih – lebih lagi tentunya, salam sebelum hamba yang shalih yaitu kepada Sayyidina Muhammad Saw “Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh”. Dalam shalat salam dulu kepada Nabi saw, salam dulu kepada shalihin kemudian baru mengucapkan syahadatain (2 kalimat syahadat). Karena tidaklah seseorang mengenal syahadatain kecuali dari Nabi Muhammad Saw dan dari para shalihin.

Hadirin, darimana orang tahu Islam?, Kecuali datangnya dari Rasulnya Allah. Bukannya Rasul Allah lebih dimuliakan daripada Allah. Buktinya Allah jadikan pada tahiyat itu salam pada Nabi dulu (sebelum syahadat) lalu salam pada shalihin baru syahadat. Bukan berarti Nabi dan shalihin lebih mulia dari Allah, bukan itu tentunya. Tentunya kita mengenal Islam itu dari Nabi saw dan dari para shalihin (ulama yang mengajari kita lewtat lisan atau buku tulisan mereka) akhirnya kenal Islam. Demikian hadirin – hadirat lalu sampailah pada keagungan “Asyhadu anlailaahaillallahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu”. Setelah itu selesai…??,
belum!! Tambah lagi shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Demikian hadirin – hadirat, manzilatunnabiy saw. (manzilah = kedudukan martabat)

Dan berhati – hatilah bagi hamba – hamba Allah, kalau masih punya masalah dengan hamba – hamba yang shalih segera mundur. Karena Allah Swt sudah mengumumkan perang kepadanya, karena sebagaimana diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqash ra yang ketika diberi tugas menjadi pemimpin oleh Sayyidina Umar bin Khattab ra di kufah menjadi Gubernur dipilih oleh Sayyidina Umar bin Khattab ra. Ada orang mengeluhkannya, Sayyidina Umar bin Khattab langsung menurunkan Sa’ad bin Abi Waqqash dari kepemimpinanya. Dan ketika Sa’ad bin Abi Waqqash datang kepada Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Umar berkata “aku tidak mencabutmu dari kedudukanmu karena keluhan mereka tapi karena hal lain” (sumber : Fathul Baari). Sayyidina Umar tidak menjelaskan hal apa, maka Sayyidina Umar mengirimkan seorang untuk bertanya – tanya kepada beberapa orang di kufah. Sa’ad bin Abi Waqqash seperti apa tingkahnya? semua yang ditanya tidak berkata lain, semuanya berkata “ia baik, ia pemimpin yang adil, ia orang yang mulia, semuanya memuji Sa’ad bin Abi Waqqash”. Ketemu satu orang namanya Aba Sa’dah “bagaimana Sa’ad bin Abi Waqqash?”, ia menjawab “penjahat, penipu, mengambil harta para fuqara, tidak adil”. Sampailah kabar ini pada Sa’ad bin Abi Waqqash, sakit hatilah Sa’ad bin Abi Waqqash. Kenapa? Bukan karena ia membicarakan dirinya tapi karena sebab itu Amirulmukminin risau dengan keadaannya dengan wilayah kufah hanya karena satu orang. Sa’ad bin Abi Waqqash berdoa kepada Allah “wahai Allah kalau seandainya aku dalam kebenaran, berikan padanya kemiskinan dan panjangkan usianya dalam kesusahan sebagai tanda bahwa aku adalah pemimpin yang adil dan orang yang jujur, jangan sampai orang termakan fitnahnya”. Maka disaat itu hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa Aba Sa’dah ini sampai usianya tua renta sampai alisnya menutupi matanya dari lanjut usinya dan ia dalam keadaan gila dan ia dalam keadaan miskin, setiap hari berlari – lari di jalan kesana – kemari, kalau orang bertanya “kenapa kau seperti ini?” ia berkata “aku kualat karena doanya Sa’ad bin Abi Waqqash”. Jadi hati – hati kepada para shalihin dan aulia (orang orang yg dicintai Allah). Alhamdulillah kita mempunyai orang – orang yang shalih, para ulama yang shalih, orang – orang yang mulia.

Dan semoga Allah menjadikan jiwa kita selalu mencintai mereka, semoga Allah menjaga kita dari hal – hal yang menyakitkan hati mereka dan Rabbiy kami pun berdoa agar sampaikan shalawat dan salam kami kepada Nabi Muhammad Saw. Tiadalah kami semua berkumpul di tempat ini Rabbiy..bermunajat kehadirat-Mu dan meminta kepada-Mu segala kemuliaan yang Kau limpahkan pada hamba – hambaMu yang Kau muliakan dari kenikmatan dunia dan akhirat yang tidak membawa kami pada kemurkaan Mu, tambahkan kepada kami kenikmatan diatas kenikmatan. Singkirkan segala musibah kami Ya Rahman Ya Rahim dan kami berdoa agar Kau datangkan hujan yang membawa Rahmat bukan hujan yang membawa musibah. Jauhkan dari kami hujan yang membawa musibah, jauhkan dari kami segala fitnah dan redamlah segala fitnah yang muncul memecah – belah muslimin. Rabbiy pecah – belahkan musuh – musuh Islam yang menyebar fitnah demi menghancurkan muslimin, demi menghancurkan ahlussunnah waljamaah, (mereka itu yg berbuat) demi menghancurkan para muhibburrasul (pecinta Rasul saw),.Rabbiy Rabbiy redamlah keadaan mereka, perbaikilah keadaan orang – orang yang jika mereka diperbaiki akan memperbaiki keadaan muslimin. Dan celakakanlah keadaan orang – orang yang jika mereka celaka maka akan terbenahi kaum muslimin Ya Dzaljalali wal ikram

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..

Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali wal ikram, hadirin – hadirat jangan bosan – bosannya menggetarkan bibirmu menyebut Nama Allah Swt, tetapkan jiwa dan ruhmu untuk selalu bermunajat kepada Allah Swt karena semakin kita merindukan dan mengingat Allah Swt semakin berjatuhan keinginan – keinginan buruk didalam jiwa kita dan semakin jauh dari kita segala musibah dan cobaan. Hadirin- hadirat semua yang hadir disini dan semua yang mendengarkan acara ini semoga dilimpahi Rahmat dan Keberkahan. Kita sama – sama berdoa mendoakan muslimin dan semoga Allah memberikan kemuliaan kepada kita disaat – saat yang dekat kepada pemilu. Semoga yang maju adalah pemimpin – pemimpin yang membela Islam, kita doakan semua calon yang akan naik akan membela Islam. Mereka menjaga kemuliaan Islam dan mencintai Nabi Muhammad Saw. Dan kita tutup dengan membaca doa yang diajarkan oleh Guru Mulia kita Alhafidz Almusnid Alhabib Umar bin Hafidz, kita bersama – sama melantunkan doanya untuk keselamatan muslimin dan untuk naiknya pemimpin – pemimpin yang baik dan bagi mereka yang masih dalam kekurangan semoga dibenahi oleh Allah Swt.

Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber :

www.majelisrasulullah.org

“Kumpulan Online Para Pecinta RASULULLAH SAW”

3 Balasan ke Dua Kaki yang Diharamkan dari Neraka

  1. Imron mengatakan:

    Assalamualaikum
    Saya sering melihat teman-teman di kantor pada saat sholat selalu “melinting” celananya hingga di atas mata kaki. Namun anehnya saat di luar sholat, celana itu kembali dibiarkan “nggleser” dibawah mata kaki sampai menyentuh tanah.
    Tidak pernah disadari bahwa di tanah yang ia lewati terdapat najis yang kemungkinan ter-“sarug” oleh bawah kain celananya.
    Saya pernah kasih saran kalau bisa jangan hanya waktu sholat, ya harus konsisten pula di luar sholat.
    Barangkali ini ya “Bib” yang menyebabkan orang tersiksa karena tidak menyadari bahwa ia sholat dengan membawa najis.
    Wassalam

  2. Azi Achmad mengatakan:

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…

    Ya memang dikhawatirkan seperti itu, namun mengenai Isbal (tidak membuat pakaian memanjang di bawah mata kaki) bukanlah perkara wajib, ia adalah Sunnah di dalam dan di luar Shalat..

    Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menurunkan pakaiannya karena SOMBONG, tidak akan dilihat oleh Allah di hari kiamat (Allah murka)”
    {HR. Abu Daud, Nasa’i & Ibnu Majah}

    Lalu berkata Sayyidina Abubakar Shiddiq ra : Wahai Rasulullah, pakaianku memanjang, maka berkata Rasul SAW : “Sungguh kau memperbuat itu bukan karena sombong”
    {Shahih Bukhari Bab Manaqib}

    jadi yg dilarang memanjangkan pakaian adalah jika karena sombong,
    kiranya demikian Bang..

    Wallahu a’lam

  3. moeslemherma mengatakan:

    nt ngcopy di MR ye

    ya dari Habibana Munzir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: