Si anti Tahlil, minta Tahlilan

nah lho..

Ini kisah dari Bekasi, pinggiran kota Metropolitan Jakarta. Dalam lima tahun terakhir ini, pengalaman keagamaan orang-orang di kota besar banyak yang berubah. Mereka yang dulunya dari kampung terbiasa dengan praktek keagamaan tradisional, setelah hijrah ke Jakarta berubah. Termasuk sahabat kita yang satu ini, sebut saja Tukijan.

Dulunya Tukijan adalah jama’ah tahlilan di kampungnya. Tetapi, setelah sering mendapat ceramah dari ustad-ustad di kota, Tukijan menjadi orang yang sangat anti tahlil. Bahkan, Tukijan kini menjadi orang yang sangat sering menyerang dan menantang jama’ah yang masih setia melakukan tahlilan. Tukijan mengatakan bahwa tahlil itu bid’ah dholalah. Bid’ah yang sesat, sehingga mengerjakannya sia-sia bahkan diancam neraka. Sadis memang ucapan Tukijan. Seakan-akan dia sudah mengambil alih tugas Malaikat Rokib dan Atid, tukang catat amal baik dan buruk.

Namun suatu hari ada keluarganya yang meninggal, sikap Tukijan jadi berubah total. Ditinggal ke alam barzah anggota keluarganya membuat Tukijan melihat dunia menjadi mencekam dan dilanda kesepian yang mendalam. Tiba-tiba sontak dalam pikirannya seperti ada yang mendorong agar Tukijan datang ke Ustad yang menjadi pengurus takmir masjid tak jauh dari rumahnya. Ustad itu justru setiap malam jum’at menjadi imam tahlilan.

Kebetulan sore itu, ustad tadi menjadi imam shalat ashar. Tukijan tiba-tiba ikut wiridan keras, sampai do’a imam selesai. Setelah bersalam-salaman, jama’ah lain sudah pada pulang, Tukijan masih menunggu ustad yang pulang belakangan. “lho kok belum pulang Pak Tukijan?,” tanya ustad. “Anu .., ustad saya menunggu ustad untuk mengundang sekalian meminta ustad agar mengajak jama’ah tahlil mengadakan tahlilan malam nanti di rumah saya,” ujar Tukijan memohon pada ustad.

“Lho kok, Pak Tukijan bukannya dulu anti tahlil dan malah pernah menanyakan ke saya hukum tahlil yang dijawab sendiri Pak Tukijan bahwa hukumnya orang tahlil bid’ah,” jawab ustad dikira Tukijan tidak serius minta tahlilan di rumahnya.

“Ustad saya ini serius, saya akui dulu saya anti tahlil. Tapi sekarang sejak keluarga saya meninggal, saya tiba-tiba sangat ingin agar di rumah ada tahlilan untuk menenangkan batin saya yang sedang sedih dan kesepian,” jelas Tukijan. “Oh…, begitu. Baik, saya akan umumkan ke jama’ah tahlil agar nanti ba’da maghrib tahlilan di rumah Pak Tukijan,” ujar ustad.

Tukijan bercerita, dirinya menjadi anti tahlil karena didoktrin oleh ustadnya yang anti tahlil. Namun, begitu anggota keluarganya meninggal, Tukijan menjadi sangat antusias untuk mengadakan tahlilan di rumahnya.

Bagi Tukijan, pengalaman yang dialami sekarang ini, menjadikan tahlil kematian sangat perlu. Tahlilan berfungsi untuk menghilangkan kesepian, perasaan sedih dapat terlupakan karena sibuk melayani tamu dan ikut berdzikir yang akan membawa ketenangan. “Kami bersyukur, ketika dilantunkan do’a kepada keluarga kami, agar diampuni dosanya dan diterima pahalanya, kami sekarang menjadi lebih tenang,” cerita Tukijan.

Tukijan juga menceritakan, tahlilan kematian berdampak positif terhadap emosional keluarga yang ditinggalkannya. Karena dengan banyaknya jama’ah tahlil yang hadir tiap malam sampai tujuh hari, dapat menjadi obat kesepian dan bisa melupakan kesedihan yang dialami.

Ustad lalu menjelaskan, “Pak Tukijan, memang tahlil dan kenduri kematian tidak hanya semata-mata budaya, tetapi berdimensi social, mengandung muatan ibadah dengan berdzikir akan semakin dekan dengan Allah dan menjadikan hati lebih tenang,” jelas ustad.

Memang sedikit merepotkan, lanjut ustad, karena harus keluar belanja untuk menjamu mereka yang ikut tahlil. Namun, jika diniatkan sedekah dan pahalanya dihadiahkan pada si mayit, insya Allah menjadi ibadah. Sebagaimana hadits : “Dari ‘Aisyah : Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad SAW dia berkata : Sesungguhnya ibuku telah meninggal tiba-tiba, saya kira kalau ia dapat bicara sebelum meninggal, tentu ia akan bersedekah. Apakah ibu saya akan dapat pahala, jika saya bersedekah menggantikannya?’ Jawab Nabi SAW : “Ya” (HR. Imam Muslim, juz XI hal 84)

Berdasarkan hadits tersebut, Imam Nawawi menjelaskan bahwa dibenarkan bersedekah yang kemudian pahalanya disampaikan kepada yang sudah meninggal, bahkan dianjurkan.

(Mukhlas Syarkun)

Sumber : Majalah Risalah NU no.7

44 Balasan ke Si anti Tahlil, minta Tahlilan

  1. rahman mengatakan:

    sudah benarkah hadis yang dipakai oleh penulis dalam hal sedekah tersebut

    shoheh bang

    • bukhory mengatakan:

      Emang kenapa engga shoheh..besedekah emang salah…ga usah minta pahala sama orang..minta sama Allah..iklaskan bersedekah..paling rendah hidangkan air putih..hormati tamu

  2. rahman mengatakan:

    salam kenal aja ya

    salam kenal juga ya

  3. arif mengatakan:

    bayak orang merasa dirinya benar, pemikiran muslimin yg terkotak – kotak dg tidak menghormati pemahaman yg berbeda, bagaimana islam bisa bersatu jk pemikiranya spt itu…
    kalau saya simpulkan ‘hafal ayat lupa akan judulnya’
    mksdnya…banyak orang hafal kitab tp judulnya lupa..apasih judulnya bismillahirrohmannirrohim(sesungguhnya allah maha pemurah dan maha penyayang)
    mas..
    tukeran link yuk
    http://berdzikir.wordpress.com
    saya tunggu konfirmasinya

    Oke mas, semoga bermanfaat yaaa…..

  4. umam daruqutni mengatakan:

    dari paragraf2 awal aja sudah ketahuan kedustaan dan ketidakfahaman penulis terhadap syari’at (manhajul haq/ahlusunnah wal jamaah/salaf)

    pesan dari rasulullah salallahu alaihi wasallam kepada sahabat radiallahu anhum ajma’in, jagalah lidahmu/lisan (apalagi tulisan) yang menyebarkan fitnah atas nama syari’at ini
    kelak tanggung jawab ini akan dituntut dengan adzab yang amat pedih.

    Di’en ini tidak mengajarkan ummatnya untuk menegakkan kebaikan dengan kedusta’an, berbeda dengan ahlul kitab yang mereka menghalalkan kebohongan untuk tegaknya agama mereka.
    naudzubillah

    • Azi Achmad mengatakan:

      Apakah kita sudah faham benar tentang syariat ???

      Tulisan di atas bukanlah “fitnah keji” melainkan “kisah religi” !!!

      Lalu bagaimana pula perkumpulan dzikir disebut menegakkan kebaikan dengan kedustaan, hanyalah iblis syaithon yg terkutuk yg membenci kalimat-kalimat dzikir dlm perkumpulan pengagungan atas Allah dan Rasul-NYA…

      LAA ILAAHA ILLALLAHU MUHAMMADUR RASULULLAH

      Semoga Allah SWT melindungi kita dari segala fitnah dunia & akhirat…

  5. alhikmah mengatakan:

    Demikianlah ahlul bid’ah hanya pake perasaan dlm beragama, sayang skali Tukijan akhirnya terpengaruh lagi dgn perasaan sedihnya ditinggal mati keluarga, tidak lg berpegang teguh dgn dalil.
    Jelas dlm hadits Muslim tsb bahwa sedekah sampai kepada si mayyit bukannya tahlilan.
    Jangan beragama ikut2an dan menuruti perasaan. Tapi ikutilah petunjuk (dalil) al-Qur’an dan as-Sunnah.
    Masa kisah Tukijan dijadikan dalil.

    • Azi Achmad mengatakan:

      Nah, sudah jelas kan sedekah itu sampai, lalu memang apa sih yg dibaca dlm tahlilan???

      Bukankah kalimat-kalimat thoyyibah serta do’a-do’a tuk si mayit!
      Apakah salah mendo’akan orang yg telah meninggal dunia?
      Bagaimana perasaan kita jika orang tua meninggal namun tak seorang pun mendo’akannya dan tak seuntai kata do’a pun mengiringi kepergian mereka?
      Apakah salah masyarakat ramai berkumpul dlm dzikir & do’a?
      Bukankah kita dianjurkan berdo’a kapanpun & dimanapun!

      Adakah dalilnya baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits tentang larangan berdo’a???

      Kisah Mas Tukijan di atas dapat dijadikan ibroh bagi yg paham & terbuka hatinya!!!

      Semoga dan semoga…

  6. Maulana malik mengatakan:

    berhati2 lah dgn pena, pastikanlah kebenaranny, krn ini masalah di’en tergelincir hbs lah, apa lagi kalau ngajak2,
    
Ya Allah berilah kami pemahaman yg benar, dan ikhlaskanlah kami menerima syariatMu, hanya kepadaMu kami memohon petunjuk

    Amiin Amiin Allahumma Amiin

  7. soulsick mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb. Akhir2 ini memang ada kalangan orang muslim yg ngakunya sih mau memurnikan ajaran sesuai Qur’an & Sunnah dengan cara yg sungguh tidak bijaksana. Kalau dilihat dari kacamata orang awam, memang penyampaian mereka mengena, karna dlm tulisan2nya maupun ucapanya selalu menyertakan hadits2 trtentu yg sudah mrk hafalkan. Akan tetapi kalau kita mau lebih cermat lagi dlm menilai, maka akan kelihatan bahwa terlalu banyak pertentangan dlm manhaj mereka, kadang menyikapi satu masalah mengatakan haram, pada suatu ketika malah mereka melakukannya, terlalu banyak terjadi tanaqudh. Agaknya virus semacam ini perlu diwaspadai agar tidak menyebar & makin menimbulkan fitnah disana sini. Wassalamualaikum

  8. soulsick mengatakan:

    Ada satu syi’iran yg menarik : فكم من عائب قولا صحيحا # وآفته من الفهم القيم‎

    artinya : Betapa banyak orang menyalahkan pendapat yg benar, bukan karena pendapat itu salah, namun lebih karena pemahaman yg tidak benar

  9. soulsick mengatakan:

    Mudah-mudahan perjuangan kita selaku generasi muda para penerus Ulama senantiasa mendapat ridlo dari Allah Subhanahu Wata’ala… Musti banyak halangan didepan mata

  10. Pama mengatakan:

    Amaln yg mnrut org baik blm tntu mnrut ALLOH SWT baik,dan sluruh amal ibadah yg dprintahkn ALLOH SWT sdh dicntohkn oleh Rosululloh SAW n risalah beliu sdh smpurna(Q.S Almaidah ;3),beliau mlarang hal2 br dlm urusn ibadh.krn risalah beliau sdh lengkp,n Alloh SWT tlh mridho’i agama islam yg dibawa bliau,tnpa prlu ada hal2 baru..krn prcm kt bribadah tnpa ada printah Alloh SWT mlalui RosulNy..,mk amaln2 trtolak bhkn sesat krn hny ikut prsangkaan org sj yg mnrut mrk baik,tnpa bimbingn ALLOH SWT mlalui RosulNya,”ckplah bg kt i’tibak kpd Rosululloh SAW,para shbt,tabi’in n tabi’ut tabi’in,krn mrk adlh gnerasi trbaik umt islam,,wAllohu A’lam.

    • Azi Achmad mengatakan:

      “Barangsiapa membuat hal baru yg baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat hal baru yg buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya”
      (Shahih Muslim Hadits no.1017)

      • galink mengatakan:

        hal baru yg bagaimana dulu. tahlilan itu sungguh besar berpengaruh terhadap masyarakat.tapi knapa nabi tidak mengjarkan urutan doa yg terdpt dlm tahlilan yg diselenggarakan keselamatan kemtian?
        apakah nabi lupa menyampaikannya?
        hhhh…

        Kenapa Nabi SAW tidak membukukan Al-Qur’an?
        Kenapa Nabi SAW tidak membuat Al-Qur’an Digital?
        Sungguh semua itu demi kemudahan muslimin untuk mengamalkannya…

  11. Pama mengatakan:

    Rosulloh SAW mlarang hal2 baru dlm bragama,krn hal itu hanya mngikuti prsangkaan sj dlm bragama,bhwa mnrut ulama A ini baik n itu baik,kmudian kt hrs ssuaikan,dgn Alqur’an n hadist n pmahamn para shabat tntang benar atw tidakny..,krn ALLOH SWT telah Meridho’i mrka bhkn dijamin surga(QS.At-Taubah:100),krn itu jika kt ingin diridho’i ALLOH SWT contohlah mrk..(”ssungguhny ada pd dri Rosululloh suritouladan yg baik bagimu,(yaitu)bagi org2 yg mngharap wajah Alloh dan kdtangn hari kiamat dan dia byk mnyebut Nama Alloh(QS.Al-Ahzaab:21)

    • Azi Achmad mengatakan:

      Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para Sahabat (Ahlul Yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (Hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra.

      Berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
      “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas Ahlul Yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul Qur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??

      Maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dgn Umar, dan engkau (Zeyd) adalah pemuda, cerdas dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat) kau telah mencatat wahyu dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”

      Berkata Zeyd : “Demi Allah, sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”

      “Maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dgn mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an.”

      (Shahih Bukhari Hadits no.4402 & 6768)

  12. bagoez spc mengatakan:

    Maaf ana orang awam, cuma ingin mengungkapkan kata2 :
    bersedekah,berzikir, berdoa/ mendoakan orang yang telah meninggal semua telah diajarkan oleh rasulullah dan amalan apa saja yang akan sampai ke si mayit telah disebutkan dengan jelas oleh rasulullah. kenapa saudara tidak menggunakan cara yang diajarkan rasulullah. apakah cara berdoa, berzikir saudara lebih baik dari pada ajaran rasulullah. coba dikaji mulai kapan sih ada dzikir bersama dan tahlilan dan siapa yang ngajarinya. sepertinya sih yang ngajarin bukan rasulullah dan sahabatnya.
    Mari kita mengikuti apa yang diajarkan Muhammad rosulullah. mau bersedekah ikutin ajaran rosulullah mau berdoa ikutin ajaran rosulullah mau berzikir ikutin ajaran rosulullah insya alloh saudara akan menjadi bagian dari ahlul sunnah wal jamaah
    ,,Wallohu A’lam

    • Azi Achmad mengatakan:

      Diantara dalil-dalil dzikir bersama :

      مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني

      Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir dan tidak mengharap kecuali ridha Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit : Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian.
      (HR. Ath-Thabrani)

      Rasulullah SAW bersabda :

      يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

      Allah Ta’ala berfirman : Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebut nama-Ku dengan lirih, Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia.

      (HR Bukhari-Muslim)

      Rasulullah SAW bersabda : “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka hendaklah kalian bersenang-senang padanya.” Para Sahabat beliau bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud dengan taman-taman surga?” Beliau pun menjawabnya : “Halaqah-halaqah dzikir.”
      (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya, juz 5 hal. 498 Kitabud Da`awat bab Ma Ja`a fi Aqdit Tasbih bil Yadi no hadits 3510 dari Anas bin Malik ra.)

      Abu Said Al-Khudri ra menceritakan : Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah keluar dari rumahnya menuju masjid dan mendapati di masjid itu halaqah (posisi duduk segerombol orang dengan formasi lingkaran). Maka Mu’awiyah menanyai mereka: “Untuk apa kalian duduk-duduk di sini?” Mereka pun menjawab : “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah.” Mua’wiyah pun mengulang pertanyaannya sembari memastikan : “Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk itu?” Mereka pun menjawab: “Demi Allah, kami tidak duduk di sini kecuali untuk itu.” Maka Mu’awiyah menyatakan kepada mereka : “Tidaklah aku meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kejujuran kalian. Dan tidaklah ada seorang pun yang kedudukannya dekat dengan Nabi SAW yang lebih sedikit dariku dalam meriwayatkan hadits Nabi SAW. Dan sesungguhnya Nabi SAW pernah di suatu hari keluar dari kamarnya ke masjid beliau dan mendapati satu halaqah dari para Sahabat beliau. Maka beliau pun menanyakan kepada mereka yang duduk di halaqah itu: (“Mengapa kalian duduk di sini?”) Mereka pun menjawab : (“Kami duduk di sini adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bertahmid kepada-Nya karena Dia telah menunjuki kami kepada Islam dan telah memberi kami kenikmatan dengan agama ini.”).
      Kemudian Rasulullah SAW mengatakan kepada mereka : (“Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan itu?”). Maka mereka pun segera menjawab : (“Demi Allah kami tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan tersebut.”) . Setelah mendapat jawaban demikian Nabi pun menyatakan kepada mereka : (“Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kalian. Akan tetapi, telah datang kepadaku Malaikat Jibril. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia telah berbangga dengan majelis kalian di hadapan para Malaikat-Nya.”

      (HR. Muslim dalam Shahih nya, juz 17 hal. 190 Kitab Adz-Dzikir wad Du’a wat Taubah wal Istighfar , Bab Fadl-lul Ijtima’ `ala Tilawatil Qur’an wa `ala Adz-Dzikri . Hadits ke 2701/40, Kitab Al-Haj no. 436 dan HR. Nasa’i dalam Kitab Al-Qudhat Bab 37)

      Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berputar-putar di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Maka bila mereka mendapati satu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka mereka pun saling panggil-memanggil dengan menyatakan : Kemarilah kalian karena di sini ada yang kalian cari.” Selanjutnya Nabi SAW menceritakan: “Maka para Malaikat itu merendahkan sayap-sayap mereka, demikian bertumpuk-tumpuk sampai ke langit terdekat (dengan bumi).”
      Nabi SAW pun berkata : “Maka Tuhan mereka Yang Maha Agung dan Maha Mulia menanyai mereka dan Allah Maha Tahu dari mereka : “Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba- Ku?” Maka para malaikat itu menjawab : “Mereka bertasbih kepada-Mu dan mereka bertakbir kepada-Mu dan mereka bertahmid kepada-Mu dan mereka mengagungkan Engkau.”
      Kemudian Allah menanyai para malaikat itu : “Apakah mereka yang berdzikir itu pernah melihat Aku?” Para Malaikat pun menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihat Engkau.” Allah menanyakan lagi : “Bagaimana seandainya mereka melihat Aku.” Maka para Malaikat pun menyatakan : “Seandainya mereka melihat Engkau, niscaya ibadah mereka kepada-Mu akan lebih kuat, dan mereka akan lebih kuat semangatnya dalam mengagungkan-Mu dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.”
      Kemudian Allah menanyai para malaikat itu: “Apakah yang mereka minta dari-Ku?” Para malaikat pun menjawab : “Mereka meminta dari-Mu surga.” Allah bertanya lagi kepada para Malaikat-Nya: “Apakah mereka pernah melihatnya?” Dijawab oleh malaikat : “Tidak pernah mereka melihatnya demi Allah.” Selanjutnya Allah bertanya lagi : “Bagaimana pula kalau mereka pernah melihatnya?” Malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka akan lebih besar keinginannya untuk mendapatkannya, dan lebih kuat semangatnya untuk meminta dan mencapainya.” Allah bertanya lagi : “Dan apakah yang mereka berlindung daripadanya? ” Para Malaikat itu menjawab : “Mereka memohon perlindungan kepada-Mu dari api neraka.” Allah pun bertanya : “Apakah mereka pernah melihatnya?” Dijawab oleh Malaikat : “Tidak, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.” Kemudian Allah menanyakan lagi : “Bagaimana pula kalau seandainya mereka pernah melihatnya?” Malaikat menjawab : “Mereka akan lebih kuat semangat menghindarinya dan akan lebih takut daripadanya.” Maka Allah menyatakan kepada para Malaikat itu : “Aku jadikan kalian sebagai saksi, bahwa Aku mengampuni dosa-dosa mereka.” Maka berkatalah salah satu dari para Malaikat itu: “Di majelis dzikir itu ada si fulan yang sesungguhnya bukan dari mereka yang berdzikir itu. Dia datang ke majelis itu untuk satu keperluan.” Allah pun menyatakan: “Mereka itu adalah majelis yang tidak akan celaka siapa pun yang duduk di majelis itu.”

      (HR. Bukhari dalam Shahih nya, lihat Fathul Bari juz 11 hal. 208 no hadits 6408 Kitabud Da’awaat bab Fadl-lu Dzikrillahi `Azza wa Jalla dan HR. Muslim dalam Shahih nya Kitab Ad-Dzikir no.25)

      Demikianlah sebagian dalil-dalil dzikir bersama dari sekian banyak hadits-hadits shahih yang menerangkannya.
      Semoga dapat kita ambil manfaat dengan pemahaman yang sebaik-baiknya.

      Wallahu a’lam

  13. cah brebes mengatakan:

    belum lama embahku meninggal,selepas sholat jenasah paklik ngasih amplop sama yang ngimami 50.000( umumnya memang begitu, umum yang jadi wajib)tahlilan sampe 7 hari, hari ke 3 dan ke 7 ada ustad yang ke makam, bersama beberapa orang ,buat tahlilan, habis tahlilan masing-masing di kasih amplop ( umumnya memang begitu ) kalo nggak ngikuti umum, misal nggak ngadain tahlilan ada omongan :kayak kucing aja mati mung di buang atau muhammadiyah ( dalam banyak pemikiran orang di lingkungan saya terutama ibu-ibu kata muhammadiyah artinya uwong sing yen mati di buang tok )saya nggak tahu selama 7 hari acara tahlilan berapa juta uang yang melayang tapi kayaknya cukup untuk sewa kios selama 1 tahun buat saya dan adik saya yang masih nggak tentu usahanya.tetapi ini masih mending daripada keluarga yang lain, banyak kok yang sampai ngutang2 buat ngadain acara tahlilan. yang jelas di untungin ya ustad-ustad, kasarnya ngomong kalo ada orang mati, ustad yang dapat rejeki trus banyak orang yang dapat makan gratis.ada kok orang yang usahanya ngikuti tahlilan cuma biar bisa dapat makan,minum,ngrokok gratis,dimana ada tahlilan ngikuuut.banyak kok orang yang ngadain tahlilan karena takut dikucilkan,takut matinya nggak ada yang ngubur.saya ingin usul sama ulama2 yang bisa buat fatwa, tahlilan boleh tapi acara bagi2 duit sama berkat(makanan )mohon di larang saja.kasihan sungguh!!

    • Azi Achmad mengatakan:

      Siapa yg dapat melarang orang untuk bersedekah, bukankah hal itu adalah kebaikan dan sunnah Rasulullah SAW agar memperbanyak sedekah, jika semua pembagian uang atau makanan diniatkan untuk sedekah apalagi dihadiahkan pahalanya untuk si mayyit, tentunya menjadi amal mulia yg berlimpah rahmah.

      Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra yang menceritakan bahwa ada seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat berbicara mestilah ia akan bersedekah. Apakah ibuku akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Rasul SAW menjawab : “Ya” (HR. Muslim)

      Dari Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia, lantas apakah ibunya akan mendapat manfaat jika dia bersedekah atas namanya? Rasulullah SAW menjawab : “Ya (bermanfaat baginya).” Kemudian lelaki itu menyedekahkan kebunnya atas nama ibunya dengan disaksikan oleh Rasul SAW.
      (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

      • galink mengatakan:

        bersedekah sih bersedekah…
        tapi kalo dipaksain ampe ngutang sana sini?
        kasihan temanku yg ngadain tahlilan,udah ditinggal istrinya,utang jg bertambah. orang susah disusahin.ckckckck…
        sungguh terlalu

        adakah yg memaksanya,
        adakah yg menyusahkannya,
        bukankah ia sendiri yg ingin bersedekah,
        orang mau sedekah qo kamu yg repot,
        cappe dueh…

  14. Manusia mengatakan:

    Kpd org2 yg seneng ngelarang tahlil dg dalil bid’ah.kalian rupanya msh blum ngrti sma hadits yg kalian sendiri jadikan dalil.kalian merujuk k hadits ini kan:
    “kullu bid’atin dhalalah”artinya segalabid’ah itu tersesat.
    Kalian fahami dulu bhwa kata “kullu”tdak selalu m’cakup seluruhnya tpi ada takhsis,ini t’bukti d dlm Al Quran:
    “waja’alnaa minal maa-i kulla syai-in hayyin”arti’a Dan telah Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup..
    Nah sprti yg qt kthui bhwa malaikat diciptakan dr chaya, iblis diciptakn dr api, itu m’bktikn bhwa segala sesuatu yg hdup tdak selalu dcptakn dr air. Bgtu jga dg bid’ah tidak selalu dhalalah tpi ada bid’ah hasanah/baik. dktakn oleh Imam Syafi’i dr Harmalah bn Yahya, beliau rahimahullah b’kta:
    “bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yg terpuji dan bid’ah yg tercela.”
    Tapi klo kalian msh tetep bersikukuh dg pendapat kalian yg suka mgtakan bid’ah sma kami yg seneng TAHLILAN,MARHABAN,YASINAN,dll ya monggo..tapi awas jangan usil ya..!!
    HIDUP TAHLILAN…
    HIDUP MARHABAN…
    HIDUP YASINAN…

    • galink mengatakan:

      Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian. “Artinya : Adapaun bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi….
      Sedang dalilnya Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu firman Allah (yang artinya), ‘Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri’, dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya), ‘Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)”. (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90).

      Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul Majmu’, Syarah Madzhab mengatakan. “Artinya : Adapun bacaan Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim”. (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU’ Syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426).

      • Azi Achmad mengatakan:

        Berikut ini saya kutipkan dari blog :
        http://salafytobat.wordpress.com/2009/04/23/sampainya-hadiah-bacaan-al-qur%E2%80%99an-untuk-mayyit-orang-mati/

        Untuk menjelaskan hal ini marilah kita lihat penuturan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan Al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafe’i dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafe’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan ayat ini untuk si fulan…….”

        Tersebut dalam Al-Majmu jilid 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam Syarah Minhaj : “Dalam madzab Syafe’i menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan tersebut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena ia adalah do’a. Maka jika boleh berdo’a untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendo’a, maka kebolehan berdo’a denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendo’a adalah lebih utama.”

        Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab Syafe’i terdapat 2 qaul dalam hal pahala bacaan :
        1. Qaul yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai.
        2. Qaul yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai.

        Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang Kitab Fathul Wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-Anshari mengatakan dalam kitabnya jilid II/19 :
        Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab Syafe’i itu dibawa atas pengertian : “Jika Al-Qur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya.”

        Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu, Syaikh Sulaiman Al-Jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal jilid IV/67 :
        “Berkata Syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya, 2. Berdo’a untuk mayyit sesudah bacaan Al-Qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya, 3. Meniatkan sampainya pahala bacaan itu kepadanya.”

        Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh Ahmad bin Qasim Al-Ubadi dalam Hasyiah Tuhfatul Muhtaj jilid VII/74 :
        “Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendo’akan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-Qur’an atau dia membaca di samping kuburnya, maka hasillah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya.”

        Namun demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin :
        1. Jika pembacaan dilakukan dihadapan mayyit, maka diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya.
        2. Jika pembacaan dilakukan bukan dihadapan mayyit, maka agar disamping meniatkan untuk si mayyit, juga disertai dengan do’a penyampaian pahala sesudah selesai membaca.

        Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam Kitab Tuhfah dan Syarah Minhaj (lihat Kitab I’anatut Tahlibin jilid III/24).

        HR. Muslim : “Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdo’a untuknya.”

        Jawab :
        Tersebut dalam Syarah Thahawiyah hal. 456, bahwa sangat keliru berdalil dengan hadits tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya).” Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya, maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Walaupun yang dipakai untuk membayar utang itu bukanlah miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu karena dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

  15. galink mengatakan:

    apakah kita sudah paham benar tentang syariat?
    makanya belajar…!
    iblis itu suka sama 1 bidah dri pda 1000 orang yg brbuat maksiat.krna apa?
    org yg brbuat maksiat itu,dia tau kalo perbuatannya salah tp yg brbuat bidah???????
    mrasa bener pdhl salah

    • Azi Achmad mengatakan:

      Apakah orang yg melakukan bid’ah namun merujuk pada kebaikan akan dicintai iblis daripada orang yg berzina, berjudi, bermabuk2 & bermaksiat2 lainnya, MANA DALILNYA?????????
      Akankah orang yg melakukan kebaikan itu dicap melakukan suatu hal yg buruk melebihi dari maksiat2 lain yg jelas2 KEBURUKAN MUTLAK…
      Pikirkan baik2 sebelum berucap duhai saudaraku…

  16. galink mengatakan:

    semua bid’ah itu sesat.pertanyaannya:”kesesatan apa yg baik?”
    coba tanya sama anak sekolah,apa itu kesesatan yang baik?
    pasti mereka bengong…
    coba pikirkan lagi wahai saudaraku

    • Azi Achmad mengatakan:

      “Semua yg baru adalah bid’ah dan semua yg bid’ah adalah sesat.” Sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan bid’ah yg tercela.”
      (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

      “Barangsiapa membuat hal baru yg baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat hal baru yg buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikit pun dari dosanya”
      (Shahih Muslim Hadits no.1017, juga diriwayatkan pada Shahih ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi al-Kubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi)

  17. galink mengatakan:

    Menyediakan Makanan

    Dalam acara Tahlilan, biasanya keluarga mayit menyediakan makanan untuk disuguhkan kepada tamu yang datang dalam acara ritual tersebut. Mereka meniatkan suguhan itu sebagai sedekah. Padahal, Nabi saw. justru memerintahkan para tetangga atau karib kerabat keluarga yang berduka untuk mengulurkan bantuan. Baik berupa makanan atau apa saja guna meringankan beban sekaligus menghibur mereka. Ungkapan belasungkawa, mereka tunjukkan dengan membawa sesuatu untuk melancarkan prosesi penguburan jenazah. Atau membawa makanan untuk keluarga yang dilanda musibah. Rasulullah saw. bersabda:

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ جَعْفَرَ قَالَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرَ حِيْنَ قُتِلَ قَالَ النَّبِيُّ “: اصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ (رواه الشافعي وأحمد).

    “Abdullah bin Ja’far berkata : tatkala datang berita, bahwa Ja’far telah terbunuh, Rasulullah saw. bersabda:”Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far! Karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkan mereka.” (HR. Asy-Syafi’i dan Ahmad).

    Karena itu, sepatutnya yang menyediakan makanan bagi keluarga yang dilanda musibah itu adalah tetangga. Bukan justru sebaliknya. Sudah tertimpa musibah, mereka pula yang harus menyediakan makanan.

    Adapun pendapat yang membolehkan pihak berduka untuk memberi makan para penta’ziah di saat tahlilan. Mereka berdalih dengan hadits yang menganjurkan keluarga berduka agar bersedekah, dengan niat pahalanya untuk mayit. Maka, pahala menjamu makan pengunjung saat tahlilan semata-mata dihadiahkan untuk mayit.

    Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa memberi makan dalam kondisi duka seperti ini, bukan hal yang wajib. Maka, jangan sampai keluarga yang berduka memaksakan diri menjamu tamu. Apalagi sampai berhutang hanya demi menutupi kebutuhan jamuan tersebut. Atau mendahulukan jamuan itu dari hal-hal yang lebih wajib, seperti menunaikan wasiat dan melunasi hutang.

    • Azi Achmad mengatakan:

      Lalu apakah menyediakan makanan bagi penta’ziah akan anda bilang Haram!!! Teman-teman kita yg datang ke rumah untuk sekedar mengobrol akan kita suguhkan berbagai hidangan guna menghormati dan menyenangkannya, sesuai Sabda Nabi SAW :

      عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَالْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ. رواه مسلم

      Dari Abi Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hormatilah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata dengan kebaikan atau diam (jika tidak bisa).” (HR Muslim)

      عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الإسْلَامُ قَالَ طِيْبُ الْكَلَامِ وَإطْعَامُ الطَّعَامِ. رواه أحمد

      Dari Amr bin Abasah, ia berkata, saya mendatangi Rasulullah SAW kemudian saya bertanya, “Wahai Rasul, apakah Islam itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Bertutur kata yang baik dan menyuguhkan makanan.” (HR Ahmad)

      Dan bagaimana dengan orang-orang yg datang ke rumah duka demi mendo’akannya, bagaimana dgn orang-orang yg datang dari tempat yg jauh, jika tidak disediakan apapun tentunya kasihan sekali mereka lelah dan letih jauh-jauh datang, tak bolehkah tuan rumah menghormati dan melayani tamunya dgn baik!

      Mengutip dari penjelasan anda di atas yaitu :
      Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa memberi makan dalam kondisi duka seperti ini, bukan hal yang wajib. Maka, jangan sampai keluarga yang berduka memaksakan diri menjamu tamu. Apalagi sampai berhutang hanya demi menutupi kebutuhan jamuan tersebut. Atau mendahulukan jamuan itu dari hal-hal yang lebih wajib, seperti menunaikan wasiat dan melunasi hutang.

      Nah, berarti tak mengapa jika tuan rumah menyediakan jamuan alakadarnya demi memuliakan tamunya yg datang dgn niat mulia untuk mendo’akannya. Bahkan hal ini adalah sunnah yang indah apalagi diniatkan sedekah.

      Rasulullah SAW bersabda :

      عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ أنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ أمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإنَّ لِيْ مَخْزَفًا فَُأشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بَهَ عَنْهَا. رواه الترمذي

      Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika akan bersedekah untuknya?” Rasulullah menjawab, “Ya”. Laki-laki itu berkata, “Aku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

      Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah ra yang menceritakan bahwa ada seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat berbicara mestilah ia akan bersedekah. Apakah ibuku akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas namanya?” Rasul SAW menjawab : “Ya” (Shahih Muslim hadits no. 1004)

      Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ayahku meninggal dunia, dan ia meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?” Ujar Nabi SAW, “Dapat!”
      [HR. Ahmad, Muslim dari Abu Hurairah]

      Imam Ath-Thabraanii juga menuturkan hadits dalam Al-Awsath dari Anas bin Malik ra. Dia mengaku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sebuah keluarga yang ditinggal mati oleh salah seorang anggotanya, lalu mereka bersedekah untuknya setelah wafatnya melainkan Malaikat Jibril akan menjadikannya sebagai hadiah yang diberikan kepadanya di atas tumpukan cahaya, lalu berhenti di tepi kubur seraya berujar, ‘Wahai penghuni kuburan yang sangat dalam, inilah hadiah yang diberikan keluargamu untukmu.” Kemudian Malaikat Jibril menyerahkan kepadanya di dalam kubur. Dia tentu saja senang dan bahagia, sementara tetangganya yang tidak mendapatkan hadiah merasa sedih.”

      Demikian sekedarnya saudaraku, semoga dapat kita ambil pelajaran yang bermanfaat adanya…
      Wallahu a’lam…

  18. galink mengatakan:

    ADAKAH YG MEMAKSAKANNYA?
    ADAKAH YG MENYUSAHKANNYA?
    BUKANKAH DIA SENDIRI YG INGIN BERSEDEKAH..

    dijawab deh:
    yg memaksakannya adlah ADAT SETEMPAT.karena kalo tdk tahlilan disebut mati seperti seekor kucing.
    yg menyusahkannya….
    kiayi kampung pasang tarif.
    dan sya sendiri yg jd saksi.
    kejamnya tuk sebuah pahala bagi orang susah.
    udah nganggur,utangnya numpuk.
    jenajah di sholatin kudu pake uang.brapa banyak diuit yg harus dikluarin buat yg nyholatin.
    TERRRRLALUUUUUUU

    • Azi Achmad mengatakan:

      Nah, berarti tiada ada seorang pun yg memaksanya membuat tahlilan dan tiada ada seorang pun yg memaksanya membuat jamuan besar, jika kondisi ekonomi yg lemah, bukankah lebih baik menyediakan jamuan alakadarnya dgn niat sedekah sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada keluarga yang telah meninggal dunia, serta sebagai bentuk penghormatan kepada tamu mulia yg datang untuk berdo’a.
      Lain halnya bila ekonomi mendukung sebagaimana seorang lelaki pada zaman Rasul SAW yang menyedekahkan kebunnya untuk ibunya yang meninggal dunia dengan disaksikan oleh Rasul SAW. Sungguh semua itu ialah SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW…

  19. galink mengatakan:

    TUKIJAN DAN USTAD DI GAMBAR?
    Padahal gambar itu dilarang,eh malah ngegambar yg kaga karuan…
    gak tau ya ada hadist tentang gambar…???
    aneh bener bener aneh…
    nih tak bawain hadistnya:

    أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله (الرسام والمصورن يشابهون خلق الله). متفق عليه.
    “Manusia yang paling pedih siksaannya di hari kiamat ialah yang meniru Allah menciptakan makhluk (pelukis, penggambar adalah peniru Allah dalam menciptakan makhluknya).” (Riwayat Bukhari Muslim)

    3. Sabda Shalallahu ‘alaihi wassalam
    أن النبي r لما رأى الصور في البيت لم يدخل حتى محيت. رواه البخاري
    “Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam ketika melihat gambar di rumah tidak mau masuk sebelum gambar itu dihapus” (riwayat Bukhari).

    4. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam

    نهى الرسول r عن الصور في البيت ونهى الرجل أن يصنع ذلك. رواه الترمذي
    “Rasulullah melarang gambar-gambar di rumah dan melarang orang berbuat demikian.” (riwayat Turmudzi).

    • Azi Achmad mengatakan:

      Ada hadits Nabi SAW diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwasanya “Orang yang membuat gambar ini akan disiksa di hari kiamat dan dikatakan kepada mereka “Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan.” Dalam riwayat Aisyah ra juga dikatakan, “Suatu hari Rasulullah datang dari bepergian, sesampainya di kediaman, beliau melihat Aisyah telah memasang kelambu bergambar di salah satu sisi ruangan, lalu berubah raut muka beliau dan beliau berkata kepada Aisyah “Tidak wahai Aisyah, sesungguhnya yang akan mendapatkan siksa pedih di hari kiamat adalah mereka yang menciptakan ciptaan yang menyerupai ciptaan Allah, lalu Aisyah mencopot kelambu tersebut dan memotongnya menjadikannya selimut bantal atau guling.

      Di dalam hadits Nabi SAW yang lain disebutkan, bahwa Malaikat Jibril as tidak mau masuk rumah Rasulullah SAW karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW:
      “Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (HR. Abu Daud, Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

      Dari penjelasan hadits di atas, para ulama membolehkan gambar atau patung makhluk bernyawa dalam keadaan yang tidak sempurna yang tak memungkinkanya untuk hidup, apakah setengah badan, kepalanya saja, atau yang lainnya.

      Para ulama mengklasifikasikan bahwa pelarangan gambar itu adalah pada gambar makhluk yg bernyawa, selain daripada itu seperti pemandangan alam atau tumbuh-tumbuhan, para ulama sepakat mengatakan boleh dan tidak ada larangan.

      Dan mengenai pelarangan gambar dari hadits-hadits yang anda sebutkan di atas, perlu kita pahami dulu latar belakang yang membuatnya haram. Di zaman jahiliyah dahulu, banyak orang yang menggambar atau membuat patung berhala-berhala yang menjadi sesembahan mereka, maka yang menjadikannya haram yang sangat jelas terlarang adalah jika membuat sesuatu gambar atau patung makhluk hidup yang disamakan dengan Allah SWT sebagai sesembahan atau Tuhan mereka dan sebagai sarana ritual khusus atau dengan tujuan mesum, sedangkan jika demi kemaslahatan muslimin misalnya untuk pendidikan, penelitian atau permainan anak-anak, maka para ulama memperbolehkannya. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Sayyidah Aisyah ra ketika masih kecil ia bermain boneka di depan Rasulullah SAW dan beliau membantunya. (HR. Muslim)

      Demikian sekedarnya saudaraku, semoga dapat bermanfaat dengan sebaik-baiknya..
      Wallahu a’lam bishshawab…

      • hamaki maulidholic mengatakan:

        @azi : terima kasih saudara azi untuk dalilnya anf sharenya.. al afwu, ane orang yg masih awam.. semoga Allah menyatukan hati kita sesama kaum muslim..

        sama2 bang, alfaqirlah yg masih awam, semoga ALLAH SWT menjadikan hati kita slalu terpaut pada-NYA dan kekasih-NYA…

    • hamaki maulidholic mengatakan:

      @galink : dari atas ane perhatiin.. ente cuma bisa ngeles aje.. belum habis satu masalah.. ente uda buka masalah baru.. terus dijawab lg, buat lagi masalah baru.. kalo mau nemuin titik cerah, jangan gitu donk caranya.. ok, saudaraku??

  20. yogi mengatakan:

    kalo antum mau tahlilan,,,, suguhan air putih juga sudah cukup…. yang penting ikhlas…..
    soal ustad yang memasang tarif itu tergantung personality dari ustad itu sendiri…..
    untung dikampung ana ga ada ustad tarif….
    antum pindah ke kampung ana aja…..

    Ga mao, kampung antum gade listriknye, hehe…

  21. mpi mengatakan:

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Alhamdulillah sy menyimak dialog antara fulan yg membid’ahkan tahlil dgn yg Kang ust. Azi sampaikan… sy orang yg bodo jauh kiranya ilmu agama sy dgan si fulan tsb..begitu sabarnya kang ust. azi memberikan ketrangan2 yg si fulan blum ngerti..stelah kang. ust. azi menerangkannya knapa si fulan selalu berpindah pindah tema permasalahan..kesanalah kesinilah…seolah olah mencari cari kesalahan…sy aja orang bodo ngerti banget apa yg kang ust. azi jelaskan dan insyaAlloh ahli sunah waljamma’ah yg origin ga pernah ngurusin dan cari cari kesalahan2 diantara umat sesaudara jamiil muslimin wal muslimat ..klau emang kita sudah beda madzhab jalanlah masing2…sy juga ga pernah ngurusin knp. mereka solat dgan tlunjuk yg digerak2kan…mengapa mereka anti tahlil …anti maulid…( sama juga anti dan tidak cinta sama Rosullulloh )…merasa pintar mempermasalahkan bid’ah..sahabat nabipun Umar bin Khattab membuat sesuatu yg baru ketika menjadikan solat trawih berjemaah..itu adalah bid’ah yg baik dan hasanah …apakah saudara fulan akan menyela pada sahabat nabi Umar bin Khattab ( naudzubillah himindzalik )…apakah syiar agama islam ( da’wah ) lewat radio, internet yg fulan lakukan itu bukan sesuatu yg baru ( Bid’ah )..Khotbah jumat dgn bhsa indonesia atau lainnya ( Bkan Arab…yg di contokan oleh Baginda Rosul…seperti yg fulan lakukan itu bid’ah juga )…alhasil saudaraku..knapa hrus selalu memojokan saudara seiman yg lainnya…( saya sring menyimak golongan mereka ( anti tahlil ) sering memojokan gol. yg suka tahlil ..knapa Yah!!!!…klau mau berda’wah pakelah etika..kaya blum tamat ngajinya…ahli bid’ah ahli neraka..( menurut mereka…) , klau menurut sy yg bodo orang bid’ah itu orang yg solat subuhnya 20 roka’at..puasa romadonnya 100 hari…orang yg tidak pernah solat..tdak ada contonya ( Kaum Kafirin )…dan juga jnganlah kita berburuk sangka atas ketetapan Alloh SWT…ahli neraka ataupun tidak..pada yg selalu mengerjakan maksiatpun ( orang berdosa menurut penilaian kita ) kita tdak boleh menghukumi bahwa orang tsb ahli neraka…semuanya Alloh SWT yg menetapkannya…Kita ga tau..berdosa kiranya kita menghukumi, mendahului ketetapan Alloh SWT…sy berbangga hati dgan saudara saudaraku yg seiman masih mau mengisi kehidupan dgan hal2 yag baik beribadah hanya kepada Alloh dan berda’wah menegakkan syi’ar islam menurut syari’at Alquran dan al-hadis dan menjungjung tinggi menghormati..guru guru kita sampai pada baginda nabi Muhammad SAW..yg telah berjuang tanpa kenal waktu menegakkan syi’ar Agama Islam yg Rahmatan Lil ‘Alamin..tnpa hrus sling memojokan…buat saudaraku fulan dan Ust. Azi sy berdoa dgn seikhlas ikhlasnya kpd Alloh SWT. mudah2han kita sekalian selalu dirahmati oleh Alloh SWT…kpada Ust. azi teruslah berda’wah sesuai dgan keyakinan demi mengharap rido Alloh semata..sayapun Insyaalloh untuk menjalin hubungan Ukhuwah Islamiyah diantara sesama muslim..menjalin silaturahim diantara sesama muslim..dgan niatan beribadah untuk mengharap rido Alloh SWT..Hanya Alloh lah yg tau apa2 niatan kita selama ini…SELALU menegakkan dan mensyi’arkan lewat tahlilan …ada zdikirnya…ada silaturahimnya..ada sodakohnya…Alloh SWT. mengetahui atas segalanya…Bagi orang berada sy mengajak mari tingkatkan sodakohnya dan ibadahnya..dan bagi orang yg blum beruntung tdak bisa bersodakoh…mari beribadahlah yg semakin kuat…karena umur dunia semakin tua…. kiranya itu yg ingin sy sampaikan dari orang yg bodoh….

    Wassalmualaikum Wr. Wb

    • Azi Achmad mengatakan:

      Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh…

      SUBHANALLAH, penjelasan yg sangat jelas dgn keluhuran akhlak dan keluasan pengetahuan dari ustadz Mpi, begitulah mereka seperti itu, semoga ALLAH SWT membuka mata hati kita untuk menerima pemahaman yg ada dgn sebaik2nya keterbukaan dlm kebenaran..

      Semoga perbedaan yg ada menjadi rahmat bagi kita dlm menumbuhkan ghiroh yg besar untuk menuntut ilmu tanpa jemu, untuk mencari kebenaran dgn iman, untuk menggapai ridho ilahi yg hakiki..

      Alfaqir seorang pelajar yg masih kurang ajar, blm pantas menyandang gelar mulia sebagai ustadz, mohon do’a dan bimbingannya dari ustadz Mpi, semoga setiap langkah kita selalu dlm keridhoan Allah SWT dgn curahan rahmat-NYA yg berlimpah dan kecintaan pada Rasulullah SAW senantiasa bergema di jiwa raga kita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: