Lagu Boneka India, dikira Indonesia Raya

Pagi itu, tahun 60-an, lapangan upacara sudah dipenuhi berbagai pasukan, mulai dari kepolisian, tentara, dan pasukan lainnya seperti instansi pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Setelah masing-masing barisan merapikan pasukannya, tak lama dari kejauhan terdengar: “tuit…tuit…tuit…” suara sirine mobil mengejutkan semua peserta. Ternyata yang turun dari mobil dinas adalah seorang jenderal berbintang dua.

Suasana Lapangan Banteng sontak siaga. Maklum pagi itu akan diselenggarakan upacara memperingati detik-detik proklamasi. Dari kejauhan komandan upacara dengan suara lantang dan tegas memberi aba-aba mengatur barisan, mulai dari sisi kiri dan kanan.

Dengan langkah tegapnya, sang jenderal menuju tempat upacara. Masing-masing pasukan mengatur barisannya, karena upacara akan dipimpin oleh seorang jenderal. Kira-kira pukul 10.00 WIB, para peserta upacara menyambut kedatangan jenderal. Upacara pun segera dimulai.

Akhirnya upacara berlangsung. Pertama-tama komandan upacara memberikan laporannya kepada sang jenderal selaku pemimpin upacara bahwa upacara siap dimulai. Dilanjutkan dengan penghormatan peserta upacara kepada pimpinan upacara oleh komandan upacara. Setelah penghormatan, dilanjutkan dengan pembacaan UUD 1945. Suasana pun semakin tegang ketika pemimpin upacara membacakan naskah teks Pancasila. Selang beberapa menit kemudian, komandan memberikan aba-aba penghormatan kepada pengibaran bendera sang saka merah putih sambil diiringi oleh lagu Indonesia Raya.

“Kepada sang saka merah putih hormat… gerak!” suara komandan terdengar nyaring hingga kejauhan. Kelompok paduan suara langsung mengambil suara, iindo…do… dipimpin seorang dirigen. Di samping tribun petugas pemutar lagu yang berpangkat kopral siap-siap menyetel lagu pengiringnya. Sang kopral yakin kalau lagu yang ada di piringan hitam itu adalah lagu Indonesia Raya. Jenderal pun memberikan aba-aba dengan suara lantang. “Kepada sang saka merah putih, hormat….. gerak!”. Setelah lagu diputar, serentak kondisi menjadi ricuh dan gaduh. Upacara yang semula direncanakan berjalan dengan khidmat untuk mengenang hari kemerdekaan RI ternyata diwarnai dengan gelak tawa. Ada peserta yang hormat sambil menggoyangkan ibu jarinya. Bahkan ada yang menggoyangkan pinggulnya. Ternyata sumber kegaduhan itu berasal dari piringan hitam di sebelah tribun utama yang diputar oleh sang kopral. Lagu yang semula dikira Indonesia Raya karya WR. Supratman, ternyata lagu dangdut Melayu Boneka cantik dari India….. Boleh dipegang….. tak boleh dibawa…..

Mendengar lagu yang diputar keliru, sang kopral lari tunggang langgang ketakutan dari arena upacara dan lagu dangdut Boneka cantik yang dinyanyikan oleh Eliya Kadam terus berlangsung hingga selesai. Melihat kejadian itu akhirnya komandan upacara bingung dan berteriak dengan lantang, “Bubarrr… jalan…!!!”.

(Lintang Marisa)

Sumber : Majalah Risalah NU no.4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: